Depok, Mitra24Jam.info -
Sepasang suami istri lanjut usia, Heni (55) dan Wito (56), berjalan perlahan menuju pintu masuk arena Job Fair Kota Depok 2026 yang digelar di Depok Town Square (Detos). Langkah mereka sempat terhenti di meja registrasi.
Dengan raut wajah ragu, Heni menghampiri panitia dan menanyakan apakah dirinya diperbolehkan masuk ke area pameran. Jawaban panitia membuatnya sempat terdiam. Sebab, pengunjung job fair diwajibkan melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui aplikasi, sehingga tidak semua orang bisa langsung memasuki area bursa kerja.
Namun, Heni tak langsung beranjak pergi. Ia berusaha menjelaskan maksud kedatangannya. "Bukan buat saya mbak, buat anak saya," kata Heni berusaha meyakinkan panitia job fair.
Heni menjelaskan, dia hanya ingin melihat perusahaan apa saja yang membuka lowongan pekerjaan. Informasi tersebut nantinya akan ia sampaikan kepada anak semata wayangnya yang baru lulus SMA. Jika ada pekerjaan yang sesuai, ia berharap anaknya bisa datang sendiri keesokan harinya untuk mencoba melamar.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, panitia akhirnya mengizinkan Heni dan suaminya, Wito, memasuki area job fair. Namun, keduanya tidak datang untuk mencari pekerjaan bagi diri sendiri. Di dalam arena pameran, Heni justru berkeliling dari satu stan perusahaan ke stan lainnya.
Ia memerhatikan nama-nama perusahaan yang membuka lowongan. Sesekali, ia berhenti membaca persyaratan rekrutmen yang terpampang di depan stan. Semua informasi yang dikumpulkannya bukan untuk dirinya, melainkan untuk putranya yang baru memulai perjalanan setelah lulus sekolah.
Mencari Jalan untuk Anak yang Masih Bimbang
Putranya, yang kini berusia hampir 20 tahun, sebenarnya bukan tidak memiliki mimpi. Setelah lulus sekolah tahun lalu, ia sempat menolak kuliah karena ingin membangun usaha sendiri di bidang kuliner.
Dengan modal yang diberikan oran tuanya, ia mencoba berjualan kue tradisional selama sekitar tiga bulan. Namun, merintis usaha dari nol memang tidak mudah. Usaha yang dibangun ternyata belum berbuah sesuai keinginan.
Meski begitu, Heni tak pernah menganggap usaha anaknya sebagai kegagalan. Dia lalu mendorong anaknya agar mau mencari pekerjaan. Kini putranya bekerja di sebuah usaha laundry. Namun, sepulang kerja, ia masih sesekali membuat kue ketika memiliki waktu luang. "Kalau pas ada waktu dia bikin. Tapi kalau enggak ya enggak.
Karena saya kan bikin juga," kata Heni. Usaha membuat kue memang bukan hal baru di keluarga mereka. Selama lebih dari 15 tahun, Heni menjalankan usaha produksi kue rumahan. Dari dapur sederhana itulah ia pernah membantu membiayai mimpi sang anak menjadi wiraswasta. Meski demikian, Heni memahami bahwa putranya masih berada di persimpangan.
Di satu sisi, ia masih ingin melanjutkan usaha kuliner. Di sisi lain, ia juga ingin segera memiliki penghasilan sendiri.
"Untuk saat ini sih dia masih kadang masih ini ya, bimbang ya, Dia mau lanjut kuliner atau dia pengin kerja gitu. Jadi dia pengen nyoba dulu, pengen nyoba kerja, pengin ngerasain kerja," jelasnya. Kendati demikian, sebagai ibu, Heni tidak pernah memaksa anaknya memilih salah satu jalan.
Baginya, tugas orangtua bukan menentukan masa depan anak, melainkan membuka sebanyak mungkin kesempatan agar sang anak dapat memilih jalannya sendiri. Karena itulah, ketika tanpa sengaja melihat ada job fair saat sedang berjalan-jalan bersama suaminya, Wito (56), Heni memilih menghampiri meja registrasi.
Meski sempat ditolak, ia tetap mencoba menjelaskan maksud kedatangannya. Ia tahu, langkah kecil masuk ke arena job fair hari itu mungkin belum langsung mengubah masa depan anaknya.
Namun setidaknya, ia telah melakukan satu hal yang bisa dilakukan seorang ibu, mencarikan jalan, sebelum kelak sang anak memutuskan jalan mana yang akan ditempuh. "Iya, biar dapat kerjaan yang lebih baik dari yang sekarang," tuturnya.
Sumber: Kompas.com



