Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan



Ayah Anak Down Syndrome yang Meninggal di Surabaya Ungkap Kebiasaan Korban Bermain di Teras Rumah

Mitra 24jam
Selasa, 20 Oktober 2026
Last Updated 2026-10-20T11:46:53Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
INGIN JADI WARTAWAN KAMI??




 SURABAYA, Mitra24jam.info -

Selaras Abdul, ayah dari ZZA (10), anak penyandang disabilitas down syndrome yang meninggal dunia usai diduga menjadi korban perundungan di Surabaya, mengungkapkan kebiasaan harian sang putra. Ia menyebut anaknya memang lebih sering dan suka bermain di teras ketimbang di dalam rumah. 


Hal tersebut disampaikan Selaras saat menjelaskan alasan putranya berada sendirian di teras rumah ketika dua anak berinisial K (10) dan F (8) mendatangi kediamannya pada 12 September lalu.


Alasan Anak Lebih Suka Bermain di Teras Selaras menuturkan, kebiasaan ZZA bermain di teras rumah bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi fisik dan psikologis sang anak membuat teras menjadi tempat yang paling nyaman baginya.


"Kan pagar rumah depan itu saya tutup seng. Nah, dari samping rumah itu ada kayak ruangan terbuka kurang lebih 1,5 meter, ruang terbuka untuk angin-angin anak saya," jelas Selaras, Selasa (20/10/2026).


Ia mengungkapkan bahwa di dalam rumah, ZZA sering kali menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri jika merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, area teras yang terbuka menjadi pilihan utama sang anak untuk beraktivitas sehari-hari. 


"Karena kalau di dalam rumah dia itu selalu membentur-benturkan kepalanya, kadang kepalanya itu dipukuli sendiri," ucapnya. Kronologi Kejadian saat Korban Bermain di Teras Pada hari kejadian, ZZA sedang asyik bermain sendirian di teras rumah. 


Sementara itu, Selaras berada di dalam kamar untuk beristirahat setelah mengonsumsi obat akibat sakit perut, dan istrinya telah berangkat berjualan sari kedelai. "Terus saya posisi tertidur di kamar habis minum obat Ibuprofen karena mulai malam itu saya sakit perut. 


Pagi setelah istri saya berangkat jualan sari kedelai, terus saya pamit mau tidur dulu karena habis minum obat itu," terangnya. Berdasarkan rekaman CCTV kampung, terungkap bahwa K dan F masuk ke area rumah korban sekitar pukul 08.15 WIB melalui pintu samping rumah.


Keduanya berada di dalam area rumah korban selama kurang lebih 17 menit sebelum terlihat keluar pada pukul 08.32 WIB. Salah satu anak sempat kembali masuk pada pukul 08.37 WIB hingga 08.47 WIB. 


Namun, penyidik kepolisian menyimpulkan peristiwa dugaan perundungan terjadi saat kedatangan pertama mereka. Ditemukan Terjatuh dari Kursi Roda dengan Wajah Membiru Peristiwa tragis tersebut baru diketahui sekitar pukul 09.20 WIB ketika ibu korban kembali dari berjualan dan mendapati ZZA sudah tergeletak di teras rumah. 


"Habis begitu istri saya teriak-teriak, baru saya kaget. ‘Bi, anake wis biru, anake wis biru (Bi, anaknya sudah biru, anaknya sudah biru)'. Terus saya langsung terjaga dari tempat tidur, langsung ke depan, ke teras rumah," paparnya. Selaras mendapati putranya sudah dalam posisi terjatuh dari kursi roda dengan kondisi wajah membiru dan leher terjerat tali sepatu.


"Terus jeratan tali sepatu itu langsung saya kendorkan, terus dia (korban) kayak tersedak gitu, saya langsung panggil ambulans," ujarnya. Naas, nyawa ZZA tidak dapat ditolong dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.


 "Karena kan memang sudah sekitar satu jam sejak kejadiannya. Ya sudah dinyatakan meninggal direkam jantung dan memang sudah nggak ada (meninggal dunia) di sana di rumah sakit," ungkap Selaras, yang kemudian melaporkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya.


Langkah Penanganan Polisi dan Pembinaan Pelaku Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menyampaikan bahwa penanganan terhadap anak yang terlibat dilakukan melalui keputusan bersama sesuai mekanisme hukum anak. 


Satu anak pelaku diputuskan menjalani pembinaan selama six bulan di Rumah Perubahan Surabaya. "Hal itu dilakukan sebagai evaluasi dengan jaminan keberlangsungan pendidikan, baik secara akademik, rohani, dan konseling perkara, termasuk kesehatan dan makan selama di Rumah Perubahan," kata Luthfie.


Adapun satu anak saksi lainnya ditempatkan sementara di pondok pesantren atas persetujuan orang tua. "Adapun terhadap satu anak saksi saat ini masih berproses menunggu beberapa langkah yang sedang dilakukan dan untuk sementara ditempatkan atas persetujuan orang tuanya di pondok pesantren untuk mendapat pendidikan dan agar tidak terlihat oleh keluarga korban karena bertetangga rumah," pungkasnya.


Sumber: Kompas.com


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan